🐈⬛ Metode Pembelajaran Ipa Yang Menarik
karenaitu diperlukan metode yang sesuai sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih efisien serta efektif. Seorang guru seharusnya dapat menerapkan tata cara yang pas dalam aktivitas belajar- mengajar, sesuai dengan kepribadian masing-masing siswa. Dengan demikian, proses belajar-mengajar menjadi lebih menarik serta siswa dapat
Metodepembelajaran harus dapat dilaksanakan oleh guru pada saat mengajar dan dapat dibuat menarik. Tujuannya adalah agar peserta didik mendapat pengetahuan mengenai materi yang disampaikan dengan efektif dan efisien. Dalam Proses pembelajaran, Metodologi pembelajaran merupakan cara cara dalam melakukan aktivitas antara Guru sebagai pendidik
Lagudiatas selanjutnya dipakai dalam pembelajaran. Misal untuk pembelajaran IPA, seperti yang dikatakan sebelumnya kelas sudah dalam kondisi tema keluarga. Maka selanjutnya guru bisa memulai pembelajaran. Anak-anak sudah bersiap-siap dengan instruksi guru. Halo-halo apa kabar Tepuk tangan Kedipkan matamu Goyang ke kanan Goyang kekiri Putar
3 Metode pembelajaran yang selama ini digunakan kurang menarik, kurang inovatif dan kurang kondusif dalam mengembangkan daya nalar dan kreatifitas siswa. Salah satu alternatif metode yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar IPA adalah metode pembelajaran Probex (Predict-Observe-Explain).
PrinsipPembelajaran Abad Ke-21. Hampson, Patton, dan Shanks, menyebutkan 10 prinsip utama pembelajaran abad ke 21. 1. Pembelajaran tidak secara kaku dibatasi oleh waktu yang dirancang dalam RPP. Apabila ternyata waktu yang diperlukan peserta didik menguasai kompetensi lebih lama, waktu bisa ditambah dan sebaliknya. 2.
Metodeawal yang digunakan adalah riset pembelajaran eksisting IPA yang sudah ada dari aspek kemudahan penyampaian materi maupun secara tampilan visual yang menarik, hal ini melibatkan berbagai pihak sehingga pengumpulan data pun dibagi dalam beberapa metode yaitu observasi, wawancara mendalam, serta studi pustaka.
Pembelajaranmerupakan proses komunikasi yang didalamnya ada unsur-unsur: sumber pesan (guru), penerima pesan (siswa), dan pesan yaitu materi pelajaran yang diambil dari kurikulum. 2. Fungsi Media. Di dalam proses belajar mengajar dewasa ini, masih banyak guru-guru yang enggan memanfaatkan media yang tersedia.
tersebutadalah dengan memilih metode pembelajaran yang tepat dan menarik minat belajar anak. Metode pembelajaran anak usia dini dilakukan melalui kegiatan bermain, dan berpusat pada anak, sehingga memberikan kesempatan Sains atau IPA secara harafiah dapat disebut ilmu tentang alam atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. Sains
sebagaipenguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Hal yang menjadi hambatan dalam pembelajaran IPA disebabkan kurang dikemasnya pembelajaran IPA dengan metode yang menarik dan menyenangkan.
vPxE.
Bagi anak, apapun kegiatannya adalah menyenangkan. Tidak terkecuali dengan aktivitas belajar yang idealnya juga dikemas menjadi kegiatan yang menyenangkan. Terciptanya pembelajaran yang menyenangkan tidak bergantung pada materi atau mata pelajaran tetapi tergantung cara guru mengajar. Bisa menjadi menyenangkan apabila disampaikan oleh guru yang menyenangkan. Sebaliknya, materi pelajaran yang sebenar-nya mudah bisa menjadi membosankan apabila disampaikan oleh guru yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, seorang guru harus memiliki metode, pendekatan serta media khusus yang dapat membuat para siswa senang mengikuti kelasnya. Buku ini menawarkan sebuah konsep pembelajaran yang menyenangkan khususnya pada pelajaran IPA di SD/MI dan sudah melalui upaya praktek yang dilakukan oleh beberapa peneliti dan guru. Dalam buku ini dikemas sebuah pendekatan, metode dan media seperti pendekatan paikem dan inkuiri, metode savi dan quantum learning, serta penggunaan media seperti bola bekel, ular tangga, puzzel, Pop-Up Book dan Mind Map. Semoga buku ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan keilmuan tentang pembelajaran yang menyenangkan serta dapat diaplikasikan khususnya pada pelajaran IPA di SD/MI, dan terima kasih kami ucapkan kepada bapak Hanif Amrulloh dan Ibu Masrurotul Mahmudah selaku editor dan dosen pembimbing sehingga mampu melahirkan sebuah karya yang bisa bermanfaaat untuk para calon pendidik dan pendidik di SD/MI. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free A preview of the PDF is not available ... According to Asrofi 2008, the implementation of effective and interesting learning requires learning models with the help of appropriate media in order to support learning activities, so that the students will be happy in participating in learning and can receive the knowledge delivered by the teacher. Based on observations conducted in several Senior High Schools in the Special Region of Yogyakarta, it was found that the interest of students in physics learning was quite high, but they were getting bored as the response to the learning process of physics. ...Ahsan Abdulfattah Supahar PaharProblem solving skills are an important part of physics learning in schools and is also useful for adapting to the environment. Problem solving skills are also a demand for education in the 21st century, so having this skills can help to compete in gaining experience in this all-modern world. This study aimed to determine the feasibility of the developed test instrument in terms of content validity and reliability. The test instrument developed was in the form of multiple choices with a total of 25 questions. The analysis of content validity of the test instrument was conducted using the Aiken's V Coefficient. The empirical validity and reliability of test instrument were estimated using the Classical Test Theory CTT and Item Response Theory IRT. The results of this study showed that the test instrument developed was valid with Aiken's V Coefficient ranging between to and reliable with a reliability value according to CTT of while the developed questions were stated reliable according to the IRT if used by the students with the ability ranging between to in logit scale. Based on the results of the study, the instrument developed was feasible to be used as an instrument for testing problem solving Dwi OktaviyaniOryza Intan SuriAnak usia prasekolah adalah anak yang berusia 3-6 tahun. Pada masa ini, diperlukan pemantauan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, dimana panca indera dan sistem penerimaan rangsangan serta proses memori harus siap sehingga anak mampu belajar dengan baik, proses belajar pada masa prasekolah adalah dengan cara bermain. Kemampuan kognitif dalam proses pembelajaran, anak lebih sering menggunakan permainan yang menyenangkan agak anak dapat mengeksplor kreativitasnya dengan cara belajar sambil bermain. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Terapi Bermain Puzzle Terhadap Perkembangan Kognitif Usia Prasekolah di TK/TPQ Plus Hidayatullah. Jenis penelitian ini adalah Kuantitatif dengan penelitian Quasi Eksperimental Design One Group Pretest-Posttest Design. Populasi penelitian sebanyak 30 murid dengan Purposive Sampling. Metode analisis data menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil kelompok sebelum dan sesudah Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukan p value perkembangan bahasa 0,02, p value perkembangan motorik halus 0,014, p value perkembangan sosial 0,008, dan p value menggunakan lembar observasi 0,025 dengan standar p value < 0,05. Kesimpulan ada pengaruh kelompok sebelum dan sesudah dilakukan terapi bermain Mahayani Irwandani IrwandaniYuberti YubertiThis research aims to; 1 Determine the feasibility of learning media in the form of a pop-up box based on problem solving as a media for learning physics, 2 to know the attractiveness of learning media in the form of pop-up box based on problem solving as a medium of physics learning. This research is an R & D research that adopts the development of Borg &Gallyang has been modified by Sugiono. Subjects in this study are students class VIII SMPN 5 Bandarlampung, SMP WIYATAMA Bandarlampung and MTS Al-Huda JatiAgung with data collection instruments used in the form of questionnaires given to material experts, media experts, educators physics junior high school to test the quality of media learning and questionnaire response learners to know the interest / response of learners to learning media developed. The type of data generated is qualitative data which is analyzed by guidance criteria of rating category to determine product quality using Likert scale. The results of this study are; 1 Produce a pop-up box product as a learning medium; the product quality that has been developed is "very feasible" with percentage based on expert material appraisal, 89,67% by media expert equal to 89,77% and educator of junior high school with percentage equal to 91,11%; 2 Student response conducted with small group trial and VIII class trial in 3 three schools with feasibility percentage and field trials in 3 three schools each at SMPN 5 Bandarlampung 92,54%, SMP WIYATAMA Bandarlampung 95,50%, and MTS Al-Huda JatiAgung 93,6%. Keywords Research and Development, Learning Media, Pop-Up Box Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk; 1 Mengetahui kelayakan media pembelajaran berupa kotak Pop-up berbasis problem solving sebagai media pembeljaran fisika; 2 Mengetahui kemenarikan media pembelajaran berupa kotak pop-up berbasis problem solving sebagai media pembelajaran fisika. Penelitian ini merupakan penelitian R&D yang mengadopsi pengembangan dari Borg & Gall yang telah dimodifikasi oleh Sugiono. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII SMPN 5 Bandarlampung, SMP WIYATAMA Bandarlampung dan MTS Al-Huda Jati Agung dengan instrument pengumpulan data yang digunakan berupa angket yang diberikan kepada ahli materi, ahli media, tenaga pendidik fisika SMP untuk menguji kualitas media pembelajaran dan angketr espon peserta didik untuk mengetahui ketertarikan/respon peserta didik terhadap media pembelajaran yang dikembangkan. Jenis data yang dihasilkan adalah data kualitatif yang dianalisis dengan pedoman kriteria kategori penilaian untuk menentukan kualitas produk menggunakan skala Likert. Hasil penelitian ini adalah; 1 Menghasilkan produk berupa kotak pop-up sebagai media pembelajaran; kualitas produk yang telah dikembangkan adalah “sangat layak” dengan persentase berdasarkan penilaian ahli materi, 89,67% oleh ahli media sebesar 89,77 % dan tenaga pendidik SMP dengan persentasese besar 91,11%; 2 Respon pesertadidik yang dilakukan dengan uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan kelasVIII di 3 tiga Sekolah dengan persentase kelayakan 95,47% dan uji coba lapangan di 3 tiga Sekolah masing-masing sebesardi SMPN 5 Bandarlampung 92,54%, SMP WIYATAMA Bandarlampung 95,50%, dan MTS Al-Huda Jati Agung 93,6%. Kata kunci Penelitian dan Pengembangan, Media Pembelajaran, Kotak Pop-Up Fitri WahyuniAbstrak Setiap siswa pada hakikatnya kreatif. Untuk mengembangkan potensi kreatif siswa diperlukan lingkungan yang dapat memfasilitasi perkembangan potensi kreatif. Salah satu layanan bimbingan dan konseling yang efektif untuk mengembangkan kreativitas siswa adalah layanan bimbingan kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model bimbingan kelompok dengan teknik mind mapping untuk mengembangkan kreativitas siswa SMP N 2 Semarang. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Educational Research and Development. Hasil implementasi model menunjukkan bahwa model bimbingan kelompok dengan teknik mind mapping terbukti efektif mengembangkan kreativitas siswa. Tingkat kreativitas siswa mengalami kenaikan sebesar 8,2% dari sebelumnya 66,1% meningkat menjadi 74,3%. Peningkatan tersebut terjadi pada semua aspek kreativitas. Hasil uji statistik wicoxon menunjukkan nilai probabilitas dibawah 0,05 0,0025<0,05, artinya bahwa bimbingan kelompok teknik mind mapping efektif untuk mengembangkan kreativitas siswa. Disarankan bagi guru khususnya guru bimbingan dan konseling untuk selalu meningkatkan kualitas layanan bimbingan dan konseling, dan model bimbingan kelompok dengan teknik mind mapping yang dikembangkan dalam penelitian ini hendaknya dapat digunakan konselor sebagai salah satu model layanan dalam membantu siswa SMP untuk mengembangkan kreativitas siswa. Abstract Each student is essentially creative. In order to construct student creative potency required an environment wich facilitating the development of creative potency. One of guidance and counseling effective service to develop creativity is group guidance services. The aim of this research is to generate an effective mind mapping tecni-que group guidance model to improve students' creativity. This study uses a model of educational research and development. The results showed that mind mapping technique group guidance model is effective to improve students' creativity. Level of students' creativity increased creativity about before group guidance is 66% and after group guidance. It increased of level of occurred in all aspects of creativity. The results from test statistic wilcoxon that skor of probability under 0,0025<0,05, so mind mapping technique group guidance model is effective to improve students' creativity. Suggestions for teachers, especially guidance and counseling teachers always improve the quality of guidance and counseling services, and mind mapping technique group guidance model developed in this research should be used by counselor as a model services to helping junior high school students to enhance their creativity. Erwin Putera PermanaYeny Endah Purnama SariThis research is based on the observation in the third grade of Natural Science IPA subject matter of healthy and unhealthy environment characteristic, that most of students have difficulty in learning because the teacher uses conventional teaching method. In addition, the use of learning media is considered less maximized by teachers. This research is research and development R & D with model of ADDIE development. Stages there are 5 stages namely 1 Analysis Analysis, Development Design, Implementation Implementation, Evaluation Evaluation. Validation is done by material experts, media experts, and classroom teachers. The conclusion of this research is 1 Result of Development of Pop Up Book media with material to distinguish the characteristics of healthy and unhealthy environment Valid. 2 The teacher's response to the learning media of Pop Up Book that was developed, after being used in learning material, characteristic of healthy and unhealthy environment obtained good response. Likewise the response of students to this media get a positive response. 3 Pop Up Book media characteristics of a healthy and unhealthy environment based on the overall assessment of the percentage of assessment is in the category of very appropriate to be used as a medium of learning Natural Science for grade 3 primary school students. Based on the conclusions of this study, recommended 1 for teachers, one of the media that can be used in supporting the learning process is Pop Up Book, can help students become more active and can create a fun class atmosphere. 2 For further research, trials should be conducted more widely, so as to produce a widely used learning medium. Rachmat SahputraIncreasing Student Interest With Inquiry Approach Lesson In Natural Sciences IPA Primary School. Students' interest in learning Natural Sciences IPA which is characterized by relatively low less attention and less active students during learning in the classroom. This study is intended as an effort to increase student interest in learning the science subjects. The study was conducted by the method of Classroom Action Research CAR conducted an inquiry approach to fourth grade students in public elementary school Tanjung Sari Nanga Pinoh using instruments such as observation sheets. The data were tested for normality distribution of the observation of the data with the Kolmogorov-Smirnov and Shapiro-Wilk and t-test for the significance of differences in the data each cycle. The results of the research that has been conducted in two cycles of learning for 22 students in action cycle I gained interest in learning with the percentage of Through the inquiry approach to learning that is done has improved the students' interest in learning science subjects with the results of the data obtained in the second cycle as much as 100% of students have been interested in the science lessons, characterized by high enthusiasm to learn and actively take part in the experiment are taught. Thus through the inquiry approach has been able to increase student interest, especially in natural science subjects and can improve the process. Keywords Interest in learning, inquiry approach, Lesson in natural DarusmanABSTRAK Masalah yang melatar belakangi penelitian ini adalah masih rendahnya kemampuan berpikir kreatif matematik siswa Sekolah Menengah Pertama SMP, sehingga diperlukan metode pembelajaran untuk mengatasi masalah tersebut. Metode yang diterapkan adalah Metode Mind Mapping , dikarenakan dengan metode pembelajaran mind mapping kemampuan berpikir kreatif matematik siswa lebih baik jika dibandingkan dengan metode pembelajaran latar belakang tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan berpikir kreatif matematik siswa yang pembelajarannya menggunakan metode mind mapping lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya biasa. Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen berbentuk kelompok kontrol pretes-postes, dengan perlakuan metode pembelajaran mind mapping dan pembelajaran biasa konvensional. Pengumpulan data dalam penelitian ini berupa tes uraian sebanyak 4 soal, kemudian data skor kemampuan berpikir kreatif matematik siswa tersebut dianalisis dengan statistik deskriptif dan inferensial dengan menggunakan uji perbedaan dua rata-rata. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa SMP yang pembelajarannya menggunakan metode mind mapping lebih baik daripada cara biasa. Kata Kunci Berpikir Kreatif Matematik, Mind Mapping ABSTRACT The problem of the background of this research is still low ability to think creatively mathematical school students SMP, so that the necessary learning methods to overcome these problems. The method applied is Mind Mapping method, because the mind mapping method of learning mathematics students' creative thinking ability is better when compared to the learning method this background, this study aims to determine whether the ability of creative thinking of students learning mathematics using mind mapping better than the usual student learning. This research is a form of quasi-experimental pretest-posttest control group, the treatment methods of teaching and learning mind mapping regular conventional. Collecting data in this study is a description of the test as much as 4 questions, then the data is the ability to think creatively math scores of students were analyzed with descriptive and inferential statistics using two different test average. Based on the results of the data analysis we concluded that the increase in the ability to think creatively mathematical junior high school students are learning to use mind mapping method is better than the usual way. Keywords Creative Thinking Mathematics, Mind HamalikHamalik, O. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung Bumi Permainan Bingo Dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Standar KompetensiL M SholikahI G P A BuditjahjantoSholikah, L. M., Buditjahjanto, I. G. P. A. 2013. Pengaruh Permainan Bingo Dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi
Oleh Dwi Isna Wardani, KEGIATAN pembelajaran adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru harus dapat membuat suatu pembelajaran menjadi lebih efektif dan menarik, sehingga materi pelajaran yang disampaikan dapat dipahami siswa dengan lebih mudah dan siswa merasa perlu untuk mempelajari materi pelajaran tersebut. Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Di kelas V SD Negeri 1 Jatipurno, guru menyampaikan materi pelajaran IPA dengan cara mengajak siswa mengamati video pembelajaran yang ditayangkan melalui LCD proyektor. Awalnya siswa nampak antusias menyimak video demi video pembelajaran. Tetapi lama-kelamaan, siswa terlihat mulai bosan dan hanya mengomentari tampilan yang ada pada video tersebut. Bukan pada materi pembelajaran yang disampaikan. Hal itu mengakibatkan keaktifan dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran IPA, serta hasil belajar siswa menjadi rendah. Untuk mengatasi rendahnya kompetensi belajar siswa, penulis menerapkan metode pembelajaran yang dapat menarik minat belajar siswa, mengembangkan keaktifan dan kreativitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran IPA. Metode eksperimen experimental method dipilih untuk meningkatkan kompetensi belajar IPA di kelas V SD Negeri 1 Jatipurno. Pembelajaran IPA di SD merupakan penguasaan siswa terhadap pengetahuan tentang alam sekitar, yang dipelajari dari fakta-fakta, prinsip-prinsip dan proses penemuan. Pengetahuan siswa tentang alam dapat mencetak siswa bersikap ilmiah. Materi IPA yang disampaikan harus disesuaikan dengan usia dan karakteristik siswa dan tingkatan kelas, sehingga penguasaan pengetahuan tentang IPA dapat bermanfaat baik bagi diri pribadi maupun kelestarian lingkungan alam sekitar Nurhaela, 20112. Sebab itu, pembelajaran IPA di SD seharusnya menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan metode eksperimen . Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada peserta didik perorangan atau kelompok untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan Hamdayana, 2017125. Dalam proses pembelajaran dengan metode eksperimen, siswa diberi kesempatan mengalami atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, keadaan atau proses sesuatu. Metode ini menuntut keaktifan dan kreativitas siswa dalam melakukan suatu proses percobaan yang ditugaskan oleh guru. Peran guru dalam metode eksperimen sebagai fasilitator dan memberikan bimbingan dalam melakukan eksperimen siswa lebih teliti, sehingga tidak terjadi kekeliruan atau kesalahan. Langkah-langkah penerapan metode eksperimen, pertama tahap persiapan, yaitu mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk bereksperimen seperti bahan-bahan, alat, dan strategi pengerjaannya. Selanjutnya guru menjelaskan tujuan yang hendak dicapai, serta menyiapkan lembar kerja untuk siswa. Langkah kedua, yaitu tahap pelaksanaan dimulai dengan diskusi antara guru dengan siswa mengenai prosedur, alat, dan bahan eksperimen serta hal-hal penting selama eksperimen. Dalam tahap ini, guru membimbing, membantu, sekaligus mengawasi eksperimen yang dilakukan siswa. Guru selalu memperhatikan seluruh kegiatan eksperimen yang dilakukan siswa dan memberikan kesempatan siswa untuk menanyakan seputar kegiatan eksperimen. Di akhir eksperimen, siswa membuat kesimpulan dan laporan sesuai dengan lembar kerja yang diberikan guru. Langkah terakhir, tahap tindak lanjut, yaitu guru berdiskusi dengan siswa mengenai hambatan selama kegiatan eksperimen berlangsung. Guru juga menanyakan perasaan siswa ketika menemui hambatan dan penyebabnya. Dari kegiatan ini terlihat antusias dan minat siswa semakin meningkat sehingga suasana pembelajaran menjadi lebih kondusif. Kelebihan penerapan metode eksperimen menurut Djamarah 201084 yakni membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya. Dapat membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Hasil-hasil dari percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia. Dengan metode eksperimen, siswa dapat membuktikan kebenaran teoritis secara empiris, sehingga siswa terlatih untuk membuktikan secara ilmiah. Kelebihan-kelebihan di atas membuat guru semakin yakin dan mantap untuk menerapkan metode eksperimen dalam menyampaikan materi pelajaran IPA di kelas V SD Negeri 1 Jatipurno. Dengan penerapan metode eksperimen, aspek hasil belajar siswa mengalami peningkatan sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal KKM yang ditetapkan guru untuk kompetensi belajar IPA sebesar 75. Sebelum diterapkan metode eksperimen, data awal hasil belajar dari total 23 siswa, yang tuntas KKM 10 siswa dengan rata-rata sebesar 70,25. Setelah menerapkan metode eksperimen, hasil belajar siswa mengalami peningkatan signifikan, yaitu siswa yang tuntas KKM menjadi 19 siswa dengan rata-rata hasil belajar naik menjadi 92,75. Dapat disimpulkan bahwa penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V semester 2 SD Negeri 1 Jatipurno tahun pelajaran 2022/2023. * * Guru SDN 1 Jatipurno, Kabupaten Wonogiri
metode pembelajaran ipa yang menarik